(Based On True Story dengan tambahan dari penulis)
“Kriiiiiing,.............”
Seperti biasa, setiap jam 03.00 dini hari suara alarm dari
jam weker memecah heningnya suasana. Refleks tangan Yahya mengambil weker yang
ada di atas meja sebelah tempat tidur dan mematikannya, kemudian segera bangkit
dari pembaringan dan duduk di pinggiran tempat tidur dengan mata masih terlihat
sedikir mengantuk. Sengaja dia duduk di situ terlebih dahulu, untuk sekedar
mengumpulkan tenaganya.
“hoaam...” sambil mengucek-ngucek kedua matanya untuk
menghilangkan rasa kantuk.
“Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da ma amaatana wa
ilaihinnusyur[1]” ucapnya
lirih.
Setelah merasa tenaganya cukup ia pun berdiri dan segera
berjalan ke kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar suara guyuran
air,menandakan ia sedang mandi.
Lima belas menit kemudian ia sudah terlihat sedang berdiri
sholat dengan khusyuk. Bulir-bulir air mengalir dari kedua pelupuk matanya.
Bulir-bulir air mata itu semakin deras berjatuhan ketika ia membaca ayat-ayat
yang menceritakan tentang adzab, dan juga ketika ia sedang berdo’a. Kurang
lebih setengah jam lamanya ia sholat, setelah itu bangkit dan terlihat rona
wajahnya terlihat cerah kembali.
“klik” saklar lampu ruangan utama masjid dihidupkan.
Sudah menjadi kewajiban bagi yahya sebagai seorang marbot
masjid untuk menyiapkan tempat sholat, termasuk membuka pintu masjid dan pagarnya sebelum jama’ah sholat subuh
datang. Ia juga harus memastikan bahwa air wudhu tersedia dan lancar. Hampir
satu tahun ia tinggal dan bekerja di Masjid Al-Muhajirin yang terletak disalah satu kawasan perumahan
elit di Cibubur. Kondisi perekonomian yang menuntutnya untuk bekerja sambil
kuliah, dan satu-satunya pekerjaan yang bisa didapat serta cukup aman bagi
seorang santri ma’had adalah seorang marbot, dimana dia juga bisa mendapatkan tempat
tinggal secara gratis.
“Pak, pak Imron bangun pak udah mau adzan subuh..” sambil
menepuk badan pak imran, petugas jaga hewan kurban malam itu yang sedang
tertidur pulas di teras masjid. Tubuhnya yang gempal membuatnya tidak terlalu
merasa kedinginan sehinga ia tidur hanya menggunakan kaos oblong lengan pendek
pula, tanpa sarung seperti yang biasa dikenakan orang-orang pada saat ronda.
“Pak, Pak Imron bangun pak!” kali ini yahya menguncangkan
tubuh pak imran dengan sedikit keras den mengeraskan suaranya.
“uhhhh..... hoaaam...”
Dengan malas-malasan dan susah payah pak imran bangun
mengangkat tubuhnya, dengan matanya yang masih merah karena ngantuk.
“Udah adzan ustadz?”
“Jam berapa emangnya sekarang ?”