About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Maret 2015

"Membuat Ridho Allah meski Manusia Murka"

Begitulah salah satu sub bahasan nasihat yang dituliskan oleh al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam kitabnya fawaidul fawaid. Beliau mengingatkan kita dengan menukilkan hadits Aisyah yang diriwayatkan secara mauquf dan marfu' : من أرضى الله بسخط الناس كفاه الله مؤونة الناس "Siapa saja yang membuat ridho Allah di atas kemurkaan manusia pasti akan dilindungi-Nya dari gangguan umat manusia." (HR.Tirmidzi no.2414) Beliau juga menukil hadits lain yang senada : من أرضى الله بسخط الناس رضي الله عنه و أرض عنه الناس، و من أرضى الناس بسخط الله لم يغنوا عنه من الله شيئا "Siapa saja yang membuat Allah ridha di atas kemurkaan manusia maka Allah akan ridha kepadanya dan menjadikan orang lain ridha kepadanya pula. Dan siapa saja yang membuat manusia ridha di atas kemurkaan Allah maka sesungguhnya mereka tidak dapat menolong sedikitpun dari siksa-Nya." (HR.Ibnu Hibban no. 276, sanad hadits ini hasan) Dua kandungan hadits di atas adalah sebuah kondisi yang sering kali harus di alami oleh kita dan khususnya para da'i tatkala berdakwah baik itu di tengah masyarakat, negara bahkan lingkup terkecil seperti keluarga pun tak jarang kita akan menemui kondisi-kondisi dimana apa yang kita dakwahkan itu akan mendapat tentangan dan murka dari manusia yang hanya mengejar kebenaran menurut pribadinya. Adakalanya dakwah yang kita sampaikan itu akan bertentangan dengan adat kebiasaan masyarakat setempat dan sudah berlangsung sangat lama bahkan sudah mengakar. Sehingga sulit untuk dirubah, apalagi di kalangan para orang-orang yang dituakan. Banyak yang mampu bertahan dan memenangkan pertarungan idiologi itu, mereka mengutamakan keridhoan Allah di atas keridhoan manusia meski awalnya mereka di tentang habis-habisan. Sampai kemudian Allah berikan bantuannya sehingga di kemudian hari perlahan-lahan atas izin Allah menusiapun ridha dengan dakwahnya. Dan banyak pula mereka yang kalah dalam pertarungan itu, mereka lebih mengutamakan keridhoan manusia demi mendapatkan pujian dan sanjungan karena dianggap toleran, dan sebagainya. Padahal mungkin sikap tolerannya itu tidaklah pada tempat yang semestinya. Maka cukuplah dua hadits di atas menjadi peringatan bagi kita untuk lebih mengejar keridhaan Allah di atas keridhaan manusia. Imam Ibnu Qoyyim mengatakan " Manusia adalah makhluk yang banyak ketidaktahuannya. Maka itu, tidak sepatutnya manusia mendikte Allah dengan menjadikan perasaan suka - tidak suka, dan cinta-benci pribadinya sebagai tolak ukur dalam menilai sesuatu. Akan tetapi, perintah dan larangan Allahlah yang harus dijadikan sebagai tolak ukur dalam menilai baik buruknya sesuatu. Karena belum tentu apa yang dia sukai adalah baik untuk hatinya dan belum tentu apa yang dia benci adalah buruk bagi jiwanya." Wallahu a'lam bishawab. Barakallahu fiikum jami'an. Jum'at Mubarok

Kamis, 05 Februari 2015

Kewajiban Mencari Nafkah Bagi Seorang Muslim

“Maka Apabila shalat telah selesai dikerjakan, bertebaranlah kalian di muka bumi dan carilah rezeki dari karunia Allah.” (Al-Jumu’ah : 10)

Panggil saja bapak ini Abdullah (hamba Allah), karena aku juga lupa menanyakan namanya saat itu. Laki-laki asal garut ini harus berjalan kaki sepanjang hari dari pagi sampai sore atau terkadang malam dari tempat tinggalnya di daerah kelapa dua depok demi memenuhi nafkah keluarganya.  Dengan memikul peralatan sol sepatu milikinya, ia berjalan keluar masuk gang mencoba menawarkan jasa untuk memperbaiki sepatu kepada setiap orang yang ia temui. Suaranya yang terdengar mulai parau, mungkin karena harus berteriak sepanjang jalan mempromosikan jasanya. Kulit yang hitam terbakar panas matahari ibukota, tak membuat semangatnya surut dan menyerah, demi mencari nafkah yang halal lagi terjaga izzahnya untuk keluarga yang menunggu dirumah.

Saat kuberanikan diri untuk bertanya padanya, bagaimana ia bisa bertahan dan bersabar dengan usahanya ini dan tidak meminta-minta dijalanan.

Jumat, 14 Maret 2014

Jadi Muslim Harus Progresif

Waktu berjalan tanpa bisa dihentikan, detik ke menit, menit ke jam, dan seterusnya. Rasanya baru kemarin kita sholat jum’at, dan sekarang kita sudah bertemu kembali dengan hari jum’at hari yang penuh barokah. Hari yang mulia bagi umat islam. Atau mungkin kita pernah juga bergumam, rasanya baru kemarin kita meninggalkan bulan ramadhan, dan ternyata tidak lama lagi sudah akan menghadapi ramadhan kembali. Lantas, apa yang sudah kita kerjakan di sela-sela waktu tersebut? Apa perubahan besar dan positif yang telah terjadi pada diri kita.
Ikhwah, ketahuilah bahwa islam menghendaki umatnya untuk menjadi muslim yang progresif. Muslim yang senantiasa berusaha memperbaiki dirinya menjadi lebih baik lagi. Ada kata mutiara yang sangat familiar di telinga kita “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.” Jauh sebelum kalimat tadi populer dan mulai didengungkan islam telah jauh lebih dulu mengajak manusia dan kaum muslimin khususnya untuk senantiasa memperbaiki dirinya dan berusaha lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Ada sebuah hadits yang cukup masyhur dan sering kali dibacakan oleh para khotib jum’at.

عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقُولُ : الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Dari Abi Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Shalat 5 waktu, dari Jum’at ke Jum’at yang lainnya dan dari Ramadhan ke Ramadhan yang lain merupakan penghapus dosa antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi”. (HR Muslim)[1].

Senin, 23 Desember 2013

ملخص قواعد النحوية المستوى الرابع

الحال و صاحبها
صاحب الحال :
1 – أن يكون فاعلا : قص يوسف رؤياه معتجبا
2 – أن بكون مفعولا : ألقى العيز يوسف في السجن و مظلوما
3 – أن يون فاعلا و مفعولا به معا : صدق العزيز زوجته ظالمين
1 – ألحال وصف بين هيئة صاحبه
2 – الحال منصوب
3 – صاحب الحال يأتي معرفة
4 – الحال أن تكون نكرة


 تطابق الحال صاحبها في  الإفراد و التثنية و الجمع, و في التذكير و التأنيث
استقبلهما أهل المدينة مبكرين
اتستقبل = فعل الماضي مبني على الفتح
هما = ضمير مبني, مفعول به
أهل = فاعل مرفوع بالضمة و هو مضاف
المدينة = مضاف إليه مجرور بالكسرة
مبكرين = حال منصوب بالياء, لأنه مذكر السالم
 
الحال منعوت لصاحبه مفردا أو المثنى أو الجمع
مفرد = محمد جالس مطمئنة
مثنى = محمد و علي جالسان مطمئنتان
الجمع = محمد و أصدقاءه جالسون





أنواع الحال
 1 - الحال ثلاثو أنواع :
أ -  مفرد : عاد الزائران مسرورين
ب – جملة ( فعلية و اسمية )
ج – شبه الجملة ( بحرف الجار أو بظرف )
 2 – صاحب الحال لا بد أن يكون معرفة

النعت
الأمثلة :
(أ)
1 -  كان الرجل العربي يتحدث اللغة العبية بالفطرة
2 – كانت المرأة العربية تتحدث فلا تلحن
3 – و هما عالمان مشهران
4 – و كان من النحويين المتقدمين الخليل بن أحمد
5 – و عرف الناس نساء شاعرات
6 – إتسعت الفتوحات الإسلامية

 (ب)
1 – دعا انتشار اللحن إلى وضع علم يحفظ اللغة
2 – وفد رجال من العرب عددهم كثير
3 – وفدت نساء عددهن كثير
(ج)
1 – نزح رجال من العرب
2 – كان علم النحو علما بين العلوم التي عني بها المسلمون

Rabu, 06 November 2013

Muhasabah untuk aktivis dakwah


قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah, ‘sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti akan menemuimu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu dengan apa-apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah : 8)

Barusan baca buku yang ada dalam aplikasi Al-Maktabah Asy-Syamilah, judulnya Al-Isti’dad Lilmaut (Persiapan Mati).  Masih di halaman-halaman awal pada bab pertama. Di sana diceritakan bawa dulu kaum mu’minin pada awal-awal islam di makkah, mereka memakmurkan sholat, membantu orang-orang miskin dan sebagainya. Dan kita ketahui bersama sebagaimana disebutkan didalam sirah-sirah bahwa saat itu penyiksaan yang dilakukan oleh orang-orang kuffar terutama pembesar-pembesar mereka terhadap kaum muslimin sangatlah kuat.
Ada hal yang menarik menurut saya pada bagian setelah ini, bahwa saat itu kamu muslimin berusaha untuk bersabar dan tidak membalas kezhaliman yang dilakukan orang-orang kuffar saat itu. Namun ada beberapa diantara mereka yang di dalam hatinya sangat berharap untuk bisa berperang melawan kezhaliman tersebut, dan sangat berharap Allah menurunkan perintahnya untuk berperang dan mereka berazam pasti akan ikut jika seandainya perintah itu turun. Namun ternyata saat itu Allah masih belum juga mengizinkan kaum muslimin untuk berperang dengan berbagai sebab, satu diantaranya adalah karena masih sedikitnya jumlah kaum muslimin saat itu.
Sampai ketika kaum muslimin melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah) atas izin Allah, maka bertambahlah jumlah kaum muslimin saat itu dengan pesat dan bertambahlah kekuatan mereka. Maka tidak lama kemudian Allah menurunkan perintahnya untuk memerangi kaum kuffar yang menghalang-halangi dakwah islam.  Namun apa yang terjadi pada mereka yang dulunya sangat berharap akan turunnya perintah jihad terhadap kaum kuffar dan berazam akan turun jika perintah itu turun? Mereka gelisah dan ketakutan menguasai mereka untuk tidak ikut berperang. Mereka berkata “Yaa Rabbanaa limaa katabta ‘alaina al-qitaala al-aan ? law akhhorta fardhohu ilaa waqtin akhor” (Ya Tuhan kami, kenapa Engkau tetapkan kewajiban perang atas kami sekarang ? kenapa tidak dilain waktu saja kewajiban itu ?)
Aku lantas teringat akan tafsir surah Ash-Shof ayat 2 dan 3 yang pernah ku buat di blogku (http://www.ibnurrojak.blogspot.com/2013/10/tafsir-surah-ash-shof-ayat-1-3.html/m=1) tentang orang-orang yang berkata saya akan melakukan ini dan itu tapi ternyata ketika tiba waktunya mereka tidak mengerjakannya. Fikiranku kemudian melintas, mungkin dulu ada yang pernah berfikir entah saya atau siapa saja seperti ini, “ah, kelak jika aku sudah mapan maka aku akan berdakwah dengan sungguh-sungguh” atau “kelak jika aku udah dapat kerja,jika aku udah selesai kuliah, jika aku udah nikah, dan seterusnya”. Setidaknya itu semua adalah janji yang pernah kita ucapkan kepada Allah dengan sebuah prasyarat yang kita buat sendiri. Nah, pertanyaannya ketika prasyarat yang kita tentukan itu sudah terpenuhi, sudahkan kita tunaikan janji-janji kita itu ???
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah kekal. Dan kami pasti memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl : 96)
Wallahu a'lam bishowab
#AYTKTM

Jakarta, 20.50 WIB 1/11/2013
Ibnurrojak as-singkawangy


Menunjukkan Arah Jalan Berbuah Pahala

Subhanallah, sungguh indah dan mudahnya agama islam ini, ada banyak jalan yang tersedia didalamnya untuk mendapatkan balasan pahala dari Allah Subhana wa Ta’ala. Kalau aku ibaratkan islam itu ibarat sebuah pohon yang tingg serta kokoh, rindang dan buahnya lebat bergelantungan dengan cabang-cabangnya yang banyak, ada yang rendah dan ada yang tinggi. Setiap orang bisa mengambil buah manapun yang ia sukai, dan dari cabang manapun yang mampu ia gapai.
Islam dengan risalahnya yang menyeluruh dan komprehensif telah mengatur segala sesuatunya mulai dari perkara yang remeh temeh, sampai yang besar. Mulai dari kehidupan pribadi sampai bernegara, tidak ada yang luput dari perhatiannya. Dan yang membuatku semakin mencintai agama ini adalah, ia tidak pernah mengabaikan kebaiakan sekecil apapun melainkan akan mendapatkan ganjaran pahala yang besar, Maha Suci Allah Yang jiwaku berada ditangan-Nya.
Kita semua pasti pernah diminta untuk menunjukkan arah jalan oleh mereka yang mungkin sedang mencari alamat atau bahkan sedang tersesat. Subhanallah, dalam islam perkara yang kelihatannya remeh ini ternyata tidak luput dari perhatiannya bahkan mendapatkan pahala yang besar, yaitu sama dengan pahala orang yang membebaskan seorang budak. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah yang terdapat  di dalam kitab Shahih Adabul Mufrad karya Syaikh Muhammad Nasrudin Al-Albani, dari Barra’ ibnu Azib – radhiyallahu ‘anhu – dari Nabi – shalallahu ‘alaihi wa sallam – beliau bersabda,
من منح منيحة أو هدى زقاقا أو قال طريقا كان له عدل عتاق نسمة
“Barang siapa memberikan suatu pemberian atau menunjukkan gang atau beliau mengatakan jalan maka orang tersebut mendapat pahala memerdekakan budak."[1]
Betapa sempurnanya agama ini, wajarlah jika banyak orang-orang yang terpesona dengannya dan masuk ke dalamnya tanpa paksaan. Dan sungguh ini membuatku semakin cinta dan bangga dengannya. Semoga dengan mengetahui hal ini kita menjadi semakin termotivasi untuk semakin banyak beramal dan tidak meremehkan perkara-perkara yang kecil. Karena bisa jadi dikarenakan perkara kecil berupa kebaikan itu kita dimasukkan ke dalam syurga jika kita mengamalkannya dengan niat ibadah dan ikhlas. Dan bisa jadi karena perkara kecil pula berupa keburukan Allah memasukkan kita ke neraka dan mendapatkan azab-Nya yang pedih. Wallahu a’lam bishowab.

Jakarta, 29 Dzulhijjah 1434 H / 03 November 2013
Ibnurrojak As-Singkawangy




[1] Disebutkan di dalam kitab ini (Shahih Adabul Mufrad) bahwa hadits ini Shahih, dan terdapat di dalam kitab Takhrijul Misykah (1917). At-Ta'liqur-Raghib (2/34,241). Tirmidzi, Al Birru wash-Shilah, hadits (1958).

Nasihat untuk Saudariku Muslimah

بسم الله الرحمن الرحيم
نَصَائِحٌ لِأُختِيِّ مُسلِمَةٍ
الحَمدُ لِلهِ الذِي بِيَدِهِ المُلكُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ, ثُمَّ الحَمدُ لِلهِ الذِي خَلَقَ الإِنسَانَ وَ عَلَّمَهُ البَيَانَ,
ثُمَّ الحَمدُ لِلهِ الذِي جَعَلَ الإِسلَامَ مِن الأَديَانِ دِينًا عِندَهُ, وَ جَعَلَنَا مِنَ المُسلِمِينَ
وَأَشهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَحدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبدُهُ وَ رَسُولُهُ
{ يَا أَيُّهَا الذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمٌ مُسلِمُونَ }
{ يَا أَيُّهَا النَاسَ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنهَا زَوجَهَا،وَ بَثَّ مِنهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَ نِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيكُم رَقِيبًا }
{ يَا أَيُّهَا الذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَ قُولُوا قَولًا سَدِيدًا يُصلِحُ لَكُم أَعمَالَكُم وَ يَغفِرُ لَكُم ذُنُوبَكُم وَ مَن يُطِعِ اللهَ وَ رَسُولَهُ فَقَد فَازَ فَوزًا عَظِيمًا }
يَا أُختِيّ مُسلِمةٌ, اِعلَمِي - رَحِمَكِ اللهُ -  إِنَّ عَدُوَّ الإِسلَامِ لَا يَتَوَقَّفُونَ أَن يَبتَعِدُوا مُسلِمَات عَن دَينِهِنَّ فَعَلَيكِ التَّمَسُّكَ باِلقُرآنِ وَ السُنَّةِ.
وَ بِهَذِهِ الرِّسَالَةُ القَصِيرَةُ سَأَوصِيكُنَّ بِمَا جَاءَ فِي القُرآنِ الكَرِيمِ وَ حَدِيثِ الشَرِيفِ.
1 - ..., لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ,... (النُور : 21 )
فَلَا تَسمَعِي دَعوَتَهُمُ التِي دَفَعَتْكِ إِلَى جَهَنَّمَ
..., إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا (الكهف : 5 )
2 - يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (الأحزاب : 59 )
عَنْ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، قَالَتْ يَرْحَمُ اللهُ نِسَاءَ الْمُهَاجِرَاتِ الأُوَلَ لَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ : {وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ} شَقَّقْنَ مُرُوطَهُنَّ فَاخْتَمَرْنَ بِهِ[1]
لَا تَقُلِي  " لَسْنَا مِثلُهُنَّ " بَل كُنِي مِثلَ مَا قَالَهُ شَاعِرٌ :
تَشَبَّهُوا بِالكِرَامِ إِنْ لَم تَكُونُوا مِثلُهُم
                                     إِنَّ التَّشَبَّهَ بِالكِرَامِ فَلَاحٌ
3 –  يَا أُختِيّ مُسلِمَةٌ اِسمَعِي قَولَ أُمِّ المُؤمِنِينَ حِينَ سَأَلَتْ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَ سَلَّمَ :
سَأَلْتُ النَّبِيَ صلى الله عليه و سلم كَيفَ يَصنَعنَ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ (أَسفَلُ الثِيَابِ) قَالَ : يَرخِينَهُ شِبرًا, قَالَتْ : إِذَا تَنكَشِفُ أَقدَمَهُنَّ , قَالَ : يَرخَينَهُ ذِرَاعًا لَا يَزِدنَ عَلَيهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيهَ
4 – يَا أُختِيّ مُسلمة ٌ, أُمُّ جَيلِ المُقبِلِ اِسمَعِي قَول الشَاعِر :
الأُمُّ مَدرَسَةٌ إِذَا أَعدَدتَهَا
                                        أَعدَدتَ شُعبًا طَيبُ الأَعرَاقِ
الأُمُّ  رَوضٌ تَعَهُّدُهُ الحَيَا
                              بِالرَّيِّ أَورَقٌ أَيمَا إِيرَاقٌ
الأُمُّ أُستَاذُ الأَسَاتِذَةِ الأُولَى
                              شَغَلَتْ مآثِرُهُم مَدَى الآفَاقُ
5 – قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه و سلم إِنَّ الإِسلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بُدِأَ فَطُوبَى لِلغُرَبَاءِ,قِيلَ:  وَ مَن هُم يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : الذِينَ يُصلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَاسُ ( رَوَاهُ التُرمُذِي , وَ قَال أَلبَانِي : صَحِيحٌ )
هَذِهِ هِيَ نَصَائِحِيّ أَنَا إِلَيكِ – حَفِظَكِ اللهُ - وَ أَختَمَهَا بِقَولِ تَعَالَى :
سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (الرعد : 24 )

Terjemahan :
Nasihat untuk Saudariku Muslimah
Segala puji bagi Allah yang menguasai (segala) kerajaan dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu, kemudian segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dan mengajarkannya berbicara, kemudia segala pujia bagi Allah yang telah menjadikan islam dari agama-agama lainya menjadi (satu-satunya) agama di sisi-Nya dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).
Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah yang Satu, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah kalian mati kecuali kalian dalam keadaan muslim.”
“Wahai manusia, bertaqwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu (Adam), kemudian menciptakan pasangannya (Hawa) darinya. Dan Allah memperkembangbiakkan dari mereka berdua laki-laki dan perempuan dalam jumlah yang banyak, dan bertaqwalah kepada Allah yang kalian meminta sesuatu kepada-Nya dan peliharalah hubungan, sesungguhnya Allah mengawasi kalian.”
“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar, maka Allah akan membaguskan bagi kalian amal-amal kalian, dan mengampunkan dosa-dosa kalian, dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya sungguh telah memperoleh kemenangan yang besar.”
Wahai saudariku muslimah – semoga Allah merahmatimu – ketahuilah !
Sesungguhnya musuh-musuh islam tidak berhenti menjauhkan para muslimah dari agama mereka, maka hendaknya dirimu berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Dan melalui surat yang singkat ini, aku akan menasihatimu dengan apa-apa datang dari Al-Qur’an dan hadits yang mulia.
1.      “,... janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan.” ( QS. An-Nur : 21)
Maka jangan engkau dengarkan seruan mereka yang mendorongmu ken neraka jahanam.
“,... jika mereka berbicara melainkan kebohongan.” (QS. Al-Kahfi : 5)
2.      “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri dan anak-anak perempuanmu, dan istri-istri kaum mukmin, ‘hendaklah mereka menutupkan jilbab mereka keseluruh tubuh mereka’ yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS.Al-Ahzab : 59)
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “semoga Allah merahmati wanita-wanita pertama yang berhijrah yaitu ketika Allah menurunkan firman-Nya :
‘Hendaklah mereka menutupi kain kudung atas mereka.’(QS.An-Nur :31)
Mereka langsung merobek hordeng mereka untuk menjadiannya jilbab.”[2]
Jangan berkata, “kami bukan seperti mereka”, tapi jadilah sebagaimana yang disebutkan seorang penyair :
“Contohlah mereka walau tidak persis seperti mereka
                Sesungguh mencontoh orang yang mulia itu suatu keberuntungan”
3.      Wahai saudariku dengarkanlah perkataan Ummul Mukminin ketika bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam:
“Aku bertanya kepada Nabi – shalallahu ‘alaihi wasallam – bagaimana yang harus diperbuat seorang wanita dengan bagian bawah baju mereka?” Nabi menjawab : “Hendaknya dia turunkan satu jengkal (dari mata kaki).” Ummul mukminin berkata : “kalau begitu akan tersingkap kaki mereka” Rasulullah menjawab : “Turunkan satu lengan dan jangan melebihinya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
4.      Wahai saudariku musliah, ibu generasi yang akan datang dengarkanlah perkataan seorang penyair :
Ibu adalah madrasah, jika anda persiapkan
                       Anda mempersiapkan generasi yang harum namanya
Ibu adalah taman, jika ia selalu disiram
                       Ia akan berdaun rindang
Ibu adalah ustadzah pertama
                        Pengaruhnya sangat besar sepanjang masa
5.      Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya islam muncul dalam keadaan terasing, dan akan kembali terasing seperti permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Rasulullah ditanya : “Siapa mereka ya Rasulullah ?“ beliau menjawab : “Yang melakukan perbaikan ketika manusia melakukan kerusakan.” (HR. Turmudzi dan Albani menilainya shahih)
Inilah nasihatku untukmu dan aku tutup dengan firman Allah subhana wa ta’ala:
“Salam sejahtera atas kalian dengan kesabaran kalian. Maka alangka nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’du : 24)

Jakarta, 30 Dzulhijjah 1434 H / 4 November 2013
Ibnurrojak As-Singkawangy




[1] صحيح البخاري 4758 كتاب بدء الوحي (جزء : 6 / ص : 136 )
[2] Shahih Al-Bukhari No.4758 Kitab Permulaan wahyu (Juz:6 / Hal: 136)

Sabtu, 19 Oktober 2013

Al-Qur’an Hujjatun Laka aw ‘Alaika Bag. 1 (diambil dari Al-Maktabah Asy-Syamilah)

Penulis          : Abu Ahmad, Muhammad ibnu Ahmad ibnu Muhammad Al-‘Ammaari ( Anggota Departemen Dakwah dan Bimbingan Islam Kerajaan Arab Saudi)
Penerjemah    : ibnurrojak As-Singkawangy (Mahasiswa Ma’had Utsman ibnu Affan Mustawa Ar-Rabi’)

Segala puji hanya untuk Allah yang mengajarkan (manusia) dengan pena, mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahuinya. Segala puji hanya untuk Allah yang telah menciptakan manusia dan mengajarkannya berbicara.
Sholawat dan salam kepada yang tidak berbicara dengan hawa nafsu, melainkan itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Amma ba’du
Dari Abi Mali Al-Asy’ari – radhiyallahu ‘anhu -  beliau berkata : Rasulullah – shalallahu ‘alaihi wasallam – bersabda “ Al-Qur’an sebagai hujjah yang akan membelamu atau menuntutmu” (HR. Muslim)

1.      Al-Qur’an menjadi hujjah / dalil yang akan membelamu jika kamu mengetahuinya. Firman Allah Subhana wa  Ta’ala :
أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ
“Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan (Allah) kepadamu adalah kebenaran? Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. Ar-Ra’du : 19)
Dan hujjah yang akan menuntutmu jika kamu tidak mengetahuinya. Allah subhana wa ta’ala berfirman :
أَمِ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ هَذَا ذِكْرُ مَن مَّعِيَ وَذِكْرُ مَن قَبْلِي بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ فَهُم مُّعْرِضُونَ
“ Atau apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia? Katakanlah (Muhammad), ‘Kemukakanlah alasan-alasanmu! (Al-Qur’an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang sebelumku.’ Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui yang hak (kebenaran), karena itu mereka berpaling.” (QS. Al-Anbiya : 24)
2.      Al-Qur’an menjadi Hujjah yang akan membelamu jika kamu menghafal (menjaganya). Allah Subhana wa ta’ala berfirman :
بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
“Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas didalam dada orang-orang yang berilmu,...” (QS. Al-Ankabut : 49)
Dan dari Zaid Ibnu Tsabit – radhiyallahu ‘anhu – dia berkata, aku mendengar Rasulullah – shalallahu ‘alaihi wasallam – bersabda “ Allah membaguskan rupa seseorang yang mendengarkan sebuah hadits dari kami dan menghafalnya, sampai dia menyampaikannya. Maka mungkin dia membawa pemahamannya kepada orang yang lebih faham (faqih) darinya dan mungkin dia membawa pemahamannya kepada orang yang tidak memiliki pemahaman (kurang faham).” (HR. Abu Daud dengan sanad shahih)[1]