About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 24 Maret 2014

BMH Bina Komunitas Sahabat Rumah Cita

Penyampaian Laporan dari para relawan pendidikan BMH 
JAKARTA. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam proses membangun ummat yang madani. Melalui pendidikan, Rasulullah membina sahabat-sahabatnya yang pada akhirnya berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah kehidupan manusia, dan memberikan perubahan yang sangat besar bagi dua pertiga belahan dunia hingga saat ini.
Karena itu menjadi tanggung jawab kita bersama, untuk terus melanjutkan perjuangan itu dengan kemampuan yang kita miliki saat ini.
Sabtu (15/03) lalu, Baitul Maal Hidayatullah melakukan pembinaan kepada puluhan relawan pendidikan BMH yang tergabung dalam wadah Sahabat Rumah Cita dari beberapa kampus di Jakarta, dengan wilayah sebaran Jabodetabek.
Komunitas Sahabat Rumah Cita merupakan perkumpulan mahasiswa yang peduli terhadap pendidikan anak-anak non formal dari tingkat SD sampai dengan SMA, dengan segmentasi anak-anak kurang mampu yang mendapatkan beasiswa dari BMH.
Banyak hal yang dilakukan

Minggu, 23 Maret 2014

KULI PANGGUL KELOLA RUMAH DAKWAH UNTUK 48 RT

Jakarta – Menjalani profesi sebagai seorang da’i bukanlah sebuah perkara mudah karenanya tidak banyak orang yang bersedia. Namun karena beban berat yang harus di pikul oleh para da’i itu pulalah, Allah memberikan balasan yang lebih baik dari dunia dan seisinya.
Begitulah setiap harinya Pak Heru Suciono (lihat berita sebelumnya : http://www.bmh.or.id/kuli-panggul-jadi-dai/) menjalankan profesinya sebagai da’i utusan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) di kawasan penjaringan Jakarta Utara. Sendirian mengelola rumah dakwah yang dinaungi BMH, memberikan aktifitas pengajaran kepada masyarakat. Tidak tanggung-tanggung 48 RT  atau  satu RW yang beliau tangani. Wajar saja jika semua warga di kawasan tersebut mengenal baik beliau.

Jumat, 14 Maret 2014

Jadi Muslim Harus Progresif

Waktu berjalan tanpa bisa dihentikan, detik ke menit, menit ke jam, dan seterusnya. Rasanya baru kemarin kita sholat jum’at, dan sekarang kita sudah bertemu kembali dengan hari jum’at hari yang penuh barokah. Hari yang mulia bagi umat islam. Atau mungkin kita pernah juga bergumam, rasanya baru kemarin kita meninggalkan bulan ramadhan, dan ternyata tidak lama lagi sudah akan menghadapi ramadhan kembali. Lantas, apa yang sudah kita kerjakan di sela-sela waktu tersebut? Apa perubahan besar dan positif yang telah terjadi pada diri kita.
Ikhwah, ketahuilah bahwa islam menghendaki umatnya untuk menjadi muslim yang progresif. Muslim yang senantiasa berusaha memperbaiki dirinya menjadi lebih baik lagi. Ada kata mutiara yang sangat familiar di telinga kita “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.” Jauh sebelum kalimat tadi populer dan mulai didengungkan islam telah jauh lebih dulu mengajak manusia dan kaum muslimin khususnya untuk senantiasa memperbaiki dirinya dan berusaha lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Ada sebuah hadits yang cukup masyhur dan sering kali dibacakan oleh para khotib jum’at.

عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقُولُ : الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Dari Abi Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Shalat 5 waktu, dari Jum’at ke Jum’at yang lainnya dan dari Ramadhan ke Ramadhan yang lain merupakan penghapus dosa antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi”. (HR Muslim)[1].

Senin, 23 Desember 2013

ملخص قواعد النحوية المستوى الرابع

الحال و صاحبها
صاحب الحال :
1 – أن يكون فاعلا : قص يوسف رؤياه معتجبا
2 – أن بكون مفعولا : ألقى العيز يوسف في السجن و مظلوما
3 – أن يون فاعلا و مفعولا به معا : صدق العزيز زوجته ظالمين
1 – ألحال وصف بين هيئة صاحبه
2 – الحال منصوب
3 – صاحب الحال يأتي معرفة
4 – الحال أن تكون نكرة


 تطابق الحال صاحبها في  الإفراد و التثنية و الجمع, و في التذكير و التأنيث
استقبلهما أهل المدينة مبكرين
اتستقبل = فعل الماضي مبني على الفتح
هما = ضمير مبني, مفعول به
أهل = فاعل مرفوع بالضمة و هو مضاف
المدينة = مضاف إليه مجرور بالكسرة
مبكرين = حال منصوب بالياء, لأنه مذكر السالم
 
الحال منعوت لصاحبه مفردا أو المثنى أو الجمع
مفرد = محمد جالس مطمئنة
مثنى = محمد و علي جالسان مطمئنتان
الجمع = محمد و أصدقاءه جالسون





أنواع الحال
 1 - الحال ثلاثو أنواع :
أ -  مفرد : عاد الزائران مسرورين
ب – جملة ( فعلية و اسمية )
ج – شبه الجملة ( بحرف الجار أو بظرف )
 2 – صاحب الحال لا بد أن يكون معرفة

النعت
الأمثلة :
(أ)
1 -  كان الرجل العربي يتحدث اللغة العبية بالفطرة
2 – كانت المرأة العربية تتحدث فلا تلحن
3 – و هما عالمان مشهران
4 – و كان من النحويين المتقدمين الخليل بن أحمد
5 – و عرف الناس نساء شاعرات
6 – إتسعت الفتوحات الإسلامية

 (ب)
1 – دعا انتشار اللحن إلى وضع علم يحفظ اللغة
2 – وفد رجال من العرب عددهم كثير
3 – وفدت نساء عددهن كثير
(ج)
1 – نزح رجال من العرب
2 – كان علم النحو علما بين العلوم التي عني بها المسلمون

Rabu, 06 November 2013

Muhasabah untuk aktivis dakwah


قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah, ‘sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti akan menemuimu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu dengan apa-apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah : 8)

Barusan baca buku yang ada dalam aplikasi Al-Maktabah Asy-Syamilah, judulnya Al-Isti’dad Lilmaut (Persiapan Mati).  Masih di halaman-halaman awal pada bab pertama. Di sana diceritakan bawa dulu kaum mu’minin pada awal-awal islam di makkah, mereka memakmurkan sholat, membantu orang-orang miskin dan sebagainya. Dan kita ketahui bersama sebagaimana disebutkan didalam sirah-sirah bahwa saat itu penyiksaan yang dilakukan oleh orang-orang kuffar terutama pembesar-pembesar mereka terhadap kaum muslimin sangatlah kuat.
Ada hal yang menarik menurut saya pada bagian setelah ini, bahwa saat itu kamu muslimin berusaha untuk bersabar dan tidak membalas kezhaliman yang dilakukan orang-orang kuffar saat itu. Namun ada beberapa diantara mereka yang di dalam hatinya sangat berharap untuk bisa berperang melawan kezhaliman tersebut, dan sangat berharap Allah menurunkan perintahnya untuk berperang dan mereka berazam pasti akan ikut jika seandainya perintah itu turun. Namun ternyata saat itu Allah masih belum juga mengizinkan kaum muslimin untuk berperang dengan berbagai sebab, satu diantaranya adalah karena masih sedikitnya jumlah kaum muslimin saat itu.
Sampai ketika kaum muslimin melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah) atas izin Allah, maka bertambahlah jumlah kaum muslimin saat itu dengan pesat dan bertambahlah kekuatan mereka. Maka tidak lama kemudian Allah menurunkan perintahnya untuk memerangi kaum kuffar yang menghalang-halangi dakwah islam.  Namun apa yang terjadi pada mereka yang dulunya sangat berharap akan turunnya perintah jihad terhadap kaum kuffar dan berazam akan turun jika perintah itu turun? Mereka gelisah dan ketakutan menguasai mereka untuk tidak ikut berperang. Mereka berkata “Yaa Rabbanaa limaa katabta ‘alaina al-qitaala al-aan ? law akhhorta fardhohu ilaa waqtin akhor” (Ya Tuhan kami, kenapa Engkau tetapkan kewajiban perang atas kami sekarang ? kenapa tidak dilain waktu saja kewajiban itu ?)
Aku lantas teringat akan tafsir surah Ash-Shof ayat 2 dan 3 yang pernah ku buat di blogku (http://www.ibnurrojak.blogspot.com/2013/10/tafsir-surah-ash-shof-ayat-1-3.html/m=1) tentang orang-orang yang berkata saya akan melakukan ini dan itu tapi ternyata ketika tiba waktunya mereka tidak mengerjakannya. Fikiranku kemudian melintas, mungkin dulu ada yang pernah berfikir entah saya atau siapa saja seperti ini, “ah, kelak jika aku sudah mapan maka aku akan berdakwah dengan sungguh-sungguh” atau “kelak jika aku udah dapat kerja,jika aku udah selesai kuliah, jika aku udah nikah, dan seterusnya”. Setidaknya itu semua adalah janji yang pernah kita ucapkan kepada Allah dengan sebuah prasyarat yang kita buat sendiri. Nah, pertanyaannya ketika prasyarat yang kita tentukan itu sudah terpenuhi, sudahkan kita tunaikan janji-janji kita itu ???
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah kekal. Dan kami pasti memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl : 96)
Wallahu a'lam bishowab
#AYTKTM

Jakarta, 20.50 WIB 1/11/2013
Ibnurrojak as-singkawangy


Menunjukkan Arah Jalan Berbuah Pahala

Subhanallah, sungguh indah dan mudahnya agama islam ini, ada banyak jalan yang tersedia didalamnya untuk mendapatkan balasan pahala dari Allah Subhana wa Ta’ala. Kalau aku ibaratkan islam itu ibarat sebuah pohon yang tingg serta kokoh, rindang dan buahnya lebat bergelantungan dengan cabang-cabangnya yang banyak, ada yang rendah dan ada yang tinggi. Setiap orang bisa mengambil buah manapun yang ia sukai, dan dari cabang manapun yang mampu ia gapai.
Islam dengan risalahnya yang menyeluruh dan komprehensif telah mengatur segala sesuatunya mulai dari perkara yang remeh temeh, sampai yang besar. Mulai dari kehidupan pribadi sampai bernegara, tidak ada yang luput dari perhatiannya. Dan yang membuatku semakin mencintai agama ini adalah, ia tidak pernah mengabaikan kebaiakan sekecil apapun melainkan akan mendapatkan ganjaran pahala yang besar, Maha Suci Allah Yang jiwaku berada ditangan-Nya.
Kita semua pasti pernah diminta untuk menunjukkan arah jalan oleh mereka yang mungkin sedang mencari alamat atau bahkan sedang tersesat. Subhanallah, dalam islam perkara yang kelihatannya remeh ini ternyata tidak luput dari perhatiannya bahkan mendapatkan pahala yang besar, yaitu sama dengan pahala orang yang membebaskan seorang budak. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah yang terdapat  di dalam kitab Shahih Adabul Mufrad karya Syaikh Muhammad Nasrudin Al-Albani, dari Barra’ ibnu Azib – radhiyallahu ‘anhu – dari Nabi – shalallahu ‘alaihi wa sallam – beliau bersabda,
من منح منيحة أو هدى زقاقا أو قال طريقا كان له عدل عتاق نسمة
“Barang siapa memberikan suatu pemberian atau menunjukkan gang atau beliau mengatakan jalan maka orang tersebut mendapat pahala memerdekakan budak."[1]
Betapa sempurnanya agama ini, wajarlah jika banyak orang-orang yang terpesona dengannya dan masuk ke dalamnya tanpa paksaan. Dan sungguh ini membuatku semakin cinta dan bangga dengannya. Semoga dengan mengetahui hal ini kita menjadi semakin termotivasi untuk semakin banyak beramal dan tidak meremehkan perkara-perkara yang kecil. Karena bisa jadi dikarenakan perkara kecil berupa kebaikan itu kita dimasukkan ke dalam syurga jika kita mengamalkannya dengan niat ibadah dan ikhlas. Dan bisa jadi karena perkara kecil pula berupa keburukan Allah memasukkan kita ke neraka dan mendapatkan azab-Nya yang pedih. Wallahu a’lam bishowab.

Jakarta, 29 Dzulhijjah 1434 H / 03 November 2013
Ibnurrojak As-Singkawangy




[1] Disebutkan di dalam kitab ini (Shahih Adabul Mufrad) bahwa hadits ini Shahih, dan terdapat di dalam kitab Takhrijul Misykah (1917). At-Ta'liqur-Raghib (2/34,241). Tirmidzi, Al Birru wash-Shilah, hadits (1958).

Nasihat untuk Saudariku Muslimah

بسم الله الرحمن الرحيم
نَصَائِحٌ لِأُختِيِّ مُسلِمَةٍ
الحَمدُ لِلهِ الذِي بِيَدِهِ المُلكُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ, ثُمَّ الحَمدُ لِلهِ الذِي خَلَقَ الإِنسَانَ وَ عَلَّمَهُ البَيَانَ,
ثُمَّ الحَمدُ لِلهِ الذِي جَعَلَ الإِسلَامَ مِن الأَديَانِ دِينًا عِندَهُ, وَ جَعَلَنَا مِنَ المُسلِمِينَ
وَأَشهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَحدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبدُهُ وَ رَسُولُهُ
{ يَا أَيُّهَا الذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمٌ مُسلِمُونَ }
{ يَا أَيُّهَا النَاسَ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنهَا زَوجَهَا،وَ بَثَّ مِنهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَ نِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيكُم رَقِيبًا }
{ يَا أَيُّهَا الذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَ قُولُوا قَولًا سَدِيدًا يُصلِحُ لَكُم أَعمَالَكُم وَ يَغفِرُ لَكُم ذُنُوبَكُم وَ مَن يُطِعِ اللهَ وَ رَسُولَهُ فَقَد فَازَ فَوزًا عَظِيمًا }
يَا أُختِيّ مُسلِمةٌ, اِعلَمِي - رَحِمَكِ اللهُ -  إِنَّ عَدُوَّ الإِسلَامِ لَا يَتَوَقَّفُونَ أَن يَبتَعِدُوا مُسلِمَات عَن دَينِهِنَّ فَعَلَيكِ التَّمَسُّكَ باِلقُرآنِ وَ السُنَّةِ.
وَ بِهَذِهِ الرِّسَالَةُ القَصِيرَةُ سَأَوصِيكُنَّ بِمَا جَاءَ فِي القُرآنِ الكَرِيمِ وَ حَدِيثِ الشَرِيفِ.
1 - ..., لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ,... (النُور : 21 )
فَلَا تَسمَعِي دَعوَتَهُمُ التِي دَفَعَتْكِ إِلَى جَهَنَّمَ
..., إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا (الكهف : 5 )
2 - يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (الأحزاب : 59 )
عَنْ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، قَالَتْ يَرْحَمُ اللهُ نِسَاءَ الْمُهَاجِرَاتِ الأُوَلَ لَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ : {وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ} شَقَّقْنَ مُرُوطَهُنَّ فَاخْتَمَرْنَ بِهِ[1]
لَا تَقُلِي  " لَسْنَا مِثلُهُنَّ " بَل كُنِي مِثلَ مَا قَالَهُ شَاعِرٌ :
تَشَبَّهُوا بِالكِرَامِ إِنْ لَم تَكُونُوا مِثلُهُم
                                     إِنَّ التَّشَبَّهَ بِالكِرَامِ فَلَاحٌ
3 –  يَا أُختِيّ مُسلِمَةٌ اِسمَعِي قَولَ أُمِّ المُؤمِنِينَ حِينَ سَأَلَتْ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَ سَلَّمَ :
سَأَلْتُ النَّبِيَ صلى الله عليه و سلم كَيفَ يَصنَعنَ النِّسَاءُ بِذُيُولِهِنَّ (أَسفَلُ الثِيَابِ) قَالَ : يَرخِينَهُ شِبرًا, قَالَتْ : إِذَا تَنكَشِفُ أَقدَمَهُنَّ , قَالَ : يَرخَينَهُ ذِرَاعًا لَا يَزِدنَ عَلَيهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيهَ
4 – يَا أُختِيّ مُسلمة ٌ, أُمُّ جَيلِ المُقبِلِ اِسمَعِي قَول الشَاعِر :
الأُمُّ مَدرَسَةٌ إِذَا أَعدَدتَهَا
                                        أَعدَدتَ شُعبًا طَيبُ الأَعرَاقِ
الأُمُّ  رَوضٌ تَعَهُّدُهُ الحَيَا
                              بِالرَّيِّ أَورَقٌ أَيمَا إِيرَاقٌ
الأُمُّ أُستَاذُ الأَسَاتِذَةِ الأُولَى
                              شَغَلَتْ مآثِرُهُم مَدَى الآفَاقُ
5 – قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه و سلم إِنَّ الإِسلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بُدِأَ فَطُوبَى لِلغُرَبَاءِ,قِيلَ:  وَ مَن هُم يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : الذِينَ يُصلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَاسُ ( رَوَاهُ التُرمُذِي , وَ قَال أَلبَانِي : صَحِيحٌ )
هَذِهِ هِيَ نَصَائِحِيّ أَنَا إِلَيكِ – حَفِظَكِ اللهُ - وَ أَختَمَهَا بِقَولِ تَعَالَى :
سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (الرعد : 24 )

Terjemahan :
Nasihat untuk Saudariku Muslimah
Segala puji bagi Allah yang menguasai (segala) kerajaan dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu, kemudian segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dan mengajarkannya berbicara, kemudia segala pujia bagi Allah yang telah menjadikan islam dari agama-agama lainya menjadi (satu-satunya) agama di sisi-Nya dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).
Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah yang Satu, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah kalian mati kecuali kalian dalam keadaan muslim.”
“Wahai manusia, bertaqwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu (Adam), kemudian menciptakan pasangannya (Hawa) darinya. Dan Allah memperkembangbiakkan dari mereka berdua laki-laki dan perempuan dalam jumlah yang banyak, dan bertaqwalah kepada Allah yang kalian meminta sesuatu kepada-Nya dan peliharalah hubungan, sesungguhnya Allah mengawasi kalian.”
“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar, maka Allah akan membaguskan bagi kalian amal-amal kalian, dan mengampunkan dosa-dosa kalian, dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya sungguh telah memperoleh kemenangan yang besar.”
Wahai saudariku muslimah – semoga Allah merahmatimu – ketahuilah !
Sesungguhnya musuh-musuh islam tidak berhenti menjauhkan para muslimah dari agama mereka, maka hendaknya dirimu berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Dan melalui surat yang singkat ini, aku akan menasihatimu dengan apa-apa datang dari Al-Qur’an dan hadits yang mulia.
1.      “,... janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan.” ( QS. An-Nur : 21)
Maka jangan engkau dengarkan seruan mereka yang mendorongmu ken neraka jahanam.
“,... jika mereka berbicara melainkan kebohongan.” (QS. Al-Kahfi : 5)
2.      “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri dan anak-anak perempuanmu, dan istri-istri kaum mukmin, ‘hendaklah mereka menutupkan jilbab mereka keseluruh tubuh mereka’ yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS.Al-Ahzab : 59)
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “semoga Allah merahmati wanita-wanita pertama yang berhijrah yaitu ketika Allah menurunkan firman-Nya :
‘Hendaklah mereka menutupi kain kudung atas mereka.’(QS.An-Nur :31)
Mereka langsung merobek hordeng mereka untuk menjadiannya jilbab.”[2]
Jangan berkata, “kami bukan seperti mereka”, tapi jadilah sebagaimana yang disebutkan seorang penyair :
“Contohlah mereka walau tidak persis seperti mereka
                Sesungguh mencontoh orang yang mulia itu suatu keberuntungan”
3.      Wahai saudariku dengarkanlah perkataan Ummul Mukminin ketika bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam:
“Aku bertanya kepada Nabi – shalallahu ‘alaihi wasallam – bagaimana yang harus diperbuat seorang wanita dengan bagian bawah baju mereka?” Nabi menjawab : “Hendaknya dia turunkan satu jengkal (dari mata kaki).” Ummul mukminin berkata : “kalau begitu akan tersingkap kaki mereka” Rasulullah menjawab : “Turunkan satu lengan dan jangan melebihinya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
4.      Wahai saudariku musliah, ibu generasi yang akan datang dengarkanlah perkataan seorang penyair :
Ibu adalah madrasah, jika anda persiapkan
                       Anda mempersiapkan generasi yang harum namanya
Ibu adalah taman, jika ia selalu disiram
                       Ia akan berdaun rindang
Ibu adalah ustadzah pertama
                        Pengaruhnya sangat besar sepanjang masa
5.      Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya islam muncul dalam keadaan terasing, dan akan kembali terasing seperti permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Rasulullah ditanya : “Siapa mereka ya Rasulullah ?“ beliau menjawab : “Yang melakukan perbaikan ketika manusia melakukan kerusakan.” (HR. Turmudzi dan Albani menilainya shahih)
Inilah nasihatku untukmu dan aku tutup dengan firman Allah subhana wa ta’ala:
“Salam sejahtera atas kalian dengan kesabaran kalian. Maka alangka nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’du : 24)

Jakarta, 30 Dzulhijjah 1434 H / 4 November 2013
Ibnurrojak As-Singkawangy




[1] صحيح البخاري 4758 كتاب بدء الوحي (جزء : 6 / ص : 136 )
[2] Shahih Al-Bukhari No.4758 Kitab Permulaan wahyu (Juz:6 / Hal: 136)